Tulungagung Pengekspor Ikan Hias Terbesar

25 October 2017 | UMKM
Tulungagung Pengekspor Ikan Hias Terbesar

Memiliki potensi ikan hias yang cukup besar, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan tahun 2020 menjadi pengekspor ikan hias terbesar di dunia. Keyakinan itu lantaran saat ini Kabupaten Tulungagung memiliki pertumbuhan cukup tinggi dan telah menguasai hampir 90% pangsa pasar ikan hias di Indonesia.

Direktur Pengembangan Produk Non-Konsumsi KKP, Maman Hermawan mengatakan, pemerintah akan terus mendorong industri perikanan hias dengan memberikan berbagai sarana untuk produksi maupun pemasaran.

Saat ini Indonesia berada di posisi 4 eksportir ikan hias di dunia. “Kami optimistis, Indonesia bisa menjadi eksportir ikan hias terbesar jika pelaku industri maupun pemerintah bisa bersinergi," katanya.

Catatan KKP menyebutkan, ekspor ikan hias Indonesia pada 2012 mencapai US$ 29 juta dan turun menjadi US$ 24 pada 2013 karena lesunya ekonomi Eropa pada tahun itu. “Pada 2020 nanti nilainya bisa menjadi US$70 juta," ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Tulungagung, Suprapto mengatakan, ikan hias di Tulungagung sebagian sudah diekspor ke Jepang, Malaysia, Singapura, bahkan ke beberapa negara Eropa. Pemasaran dalam negeri meliputi Jakarta, Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Purwokerto, sebagian Sumatra, Sulawesi. Ekspor ikan hias asal Tulungagung dilakukan menjalin hubungan dengan eksportir dari Bali dan Jakarta.

Dikatakannya, salah satu ikan hias di Tulungagung yang telah menjadi maskot, yaitu, strain tosa. Sementara budidaya ikan hias dikhususkan pada ikan mas koki (kaliko, tosa, rasket, mutiara, lion head (kepala singa), mata kantong (mata bola), mas lowo, tekim, spenser, rensil dan 40 jenis lainnya.

Pembudidaya ikan hias di Tulungagung sebanyak 2.256 RTP dengan jumlah pembudidaya 3.396 orang yang terpusat di Kecamatan Sumbergempol, Kedungwaru, Boyolangu, Tulungagung. Pembudidaya ikan konsumsi 10.370 RTP dengan jumlah 12.220 orang, tersebar di 12 kecamatan, yaitu Ngunut, Rejotangan, Sumbergempol, Boyolangu, Kedungwaru, Ngantru, Tulungagung, Pakel, Kalidawir, Karangrejo, Gondang, dan Kauman. Sedangkan untuk potensi budidaya ikan di air deras berada pada wilayah Kecamatan Pagerwojo dan Sendang.

Suprapto menambahkan, musim penghujan saat ini menjadi kendala produktivitas ikan hias dan memengaruhi produksi karena di musim penghujan tingkat kematian ikan bisa mencapai 50%. Ini membuat harga melambung karena stok di pasaran sedikit.

“Meski demikian dalam setiap tahunnya Tulungagung mampu memproduksi lebih dari 55 juta ekor ikan koki,” katanya.

 

Rp 3 Miliar

Sugiarto Budiono, Ketua Komisi Ikan Hias Indonesia (KIHI) menambahkan, komoditas ikan hias yang menjadi andalan ekspor Indonesia di antaranya adalah Koi, Arwana, Cupang, dan Koki. Daerah penghasil utama ikan hias selain Tulungagung adalah Blitar.

Ditambahkannya, permasalahan utama yang dihadapi peternak ikan hias lokal untuk menembus pasar luar negeri adalah brand image yang kurang kuat. Dicontohkan, untuk ikan Koi, saat ini masih dikuasai Jepang, padahal tak kalah kualitasnya.

"Kami terus berupaya membuka pasar baru untuk pemasaran ikan hias dengan mengikutkan pameran ikan hias berskala internasional. Selain itu, jenis ikan hias yang sedang menjadi tren mampu membuat jenis ikan lain tidak laku," tuturnya. Selama ini, target produksi ikan hias yang ditetapkan KKP masih rasional dan bisa dikejar. Alasannya, permintaan yang meningkat memacu para pembudidaya.

Lebih lanjut Supraptomenambahkan, kawasan minapolitan perikanan budidaya di Tulungagung telah menjadi kawasan industrialisasi. Sektor hulu telah terintegrasi dengan sektor hilir dengan pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan. Untuk itu, ia berharap KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus memperkuat infrastruktur pendukungnya, seperti jalan produksi, saluran air dan jaringan listrik. Dukungan sektor lain sangat diperlukan. Mulai dari PLN, Kementerian PU dan perbankan. Ini akan menjadikan Tulungagung menjadi kawasan industri perikanan yang lengkap.

Selama ini, perputaran uang di kawasan Minapolitan Tulungagung juga sudah cukup besar. Bahkan para pembudidaya mempunyai transaksi besar. Di perbankan mencapai lebih dari Rp 3 miliar untuk ika patin, lele dan gurame. (jal)

Web Statistic