Sentra Ikan Asin Pasuruan Kembali Bergairah

26 October 2017 | UMKM
Sentra Ikan Asin Pasuruan Kembali Bergairah

Sentraproduksi ikan asin di Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan kembali bergairah. Ini karena dalam satu bulan terakhir pasokan garam yang dibutuhkan nelayan kembali normal. Jika dua bulan sebelumnya (Juli dan Agustus) mereka kesulitan memperoleh garam, sejak pertengahan September pasokan garam kembali normal.

 

            Salah satu produsen ikan asin, Abdul Gani mengatakan, sebelumnya akibat kelangkaan garam karena kemarau basah dan rendahnya produksi garam tahun 2016, cukup dirasakan nelayan. Akibatnya produksi ikan asin ikut menyusut. Biasanya pengambilan garam bisa mencapai 5 ton, selama dua bulan kelangkaan garam hanya 4 kuintal. Itupun dipakai sekali saja. Tentu saja harga ikan asin turut naik berkisar antara Rp 2.000-3000.

            Harga garam kasar yang biasanya Rp 500/kg, melambung hingga Rp 4.000/kg. Itu pun sulit didapat. Padahal biasanya produsen ikan asin bisa menimbun garam 5 ton hingga 6 ton. “Kami terpaksa menaikkan harga ikan asin. Biasanya Rp 5 ribu per kilo, sekarang Rp 7 ribu per kilo,“ ujar Gani.

Bahkan ikan asin kualitas bagus dari Rp 15.000/kg menjadi Rp 17.000/kg. Para produsen ikan asin berharap pemerintah setempat ikut turun tangan mengatasi melambungnya harga garam. Sebab produsen terancam bangkrut. Produsen terpaksa menjual ikannya ke pabrik pengolah tepung ikan.

Kabupaten dan Kota Pasuruan yang merupakan daerah penghasil garam, ternyata tidak sepenuhnya bisa memasok kebutuhan garam di wilayahnya. “Produksi kami tergantung garam. Kalau garamnya terusan naik ya kami terpaksa tidak bisa produksi lagi,“ ujarnya.

Saat harga garam melambung, produsen tidak bisa berharap untung besar. Cukup untuk mengembalikan modal usaha saja. “Mepet sekali keuntungan. Yang terpenting bisa balik modal dan tidak rugi,” kata Seup, yang juga produsen ikan asin.

Ditemui di tempat yang sama, seorang tengkulak ikan asin, Subkhan, mengatakan, meski konsumen ikan asin masih sangat banyak, produsen tidak bisa seenaknya menaikkan harga. Jika harga ikan asin terlalu tinggi, pelanggan akan beralih ke lauk pauk lain.

Ikan asin produksi warga Panggungrejo, selain dikirim ke pasar lokal, juga dikirim ke pasar di luar Pasuruan, seperti Malang, Jombang dan Surabaya. “Kami berharap, ada kebijakan strategis dari pemerintah. Untuk menstabilkan kembali harga garam agar krisis garam tidak terulang,” kata Subkhan.

“Pesanan ikan asin tetap lancar. Bahan baku ikan juga lumayan melimpah. Justru garam yang kurang. Ikan teri, lemuru, selar, petek, cumi sekalipun ya diolah jadi ikan asin. Yang gini butuh garam semuanya. Yang sangat terpukul ya pengasin (pengusaha ikan asin)," ujarnya. (jal)

 

Web Statistic