Batik Bayuangga Rambah Kalimantan

25 October 2017 | UMKM
Batik Bayuangga Rambah Kalimantan

Batik Kota Probolinggo Jawa Timur yang dikenal dengan batik tulis Bayuangga-nya, pemasarannya telah menembus Kalimantan dan Jakarta.

Seperti dituturkan pengusaha Batik Bayuangga, Agus Hariyanto, batik Kota Probolinggo mulai berkembang sejak tahun 2009. Upayanya berawal dari keinginan Walikota Probolinggo untuk memiliki batik khas Probolinggo. Pada bulan Mei 2008, Pemkot Probolinggo mengundang guru batik untuk melatih warga Kota Probolinggo yang ingin belajar membatik.

"Namun karena Probolinggo tidak memiliki nenek moyang pembatik, sehingga setelah mengikuti pelatihan membatik, masyarakat bingung harus diapakan dan dikemanakan batik yang mereka buat," ujarnya.

Batik Kota Probolinggo memiliki motif khas Bayuangga. Sebutan ini diambil dari kata Bayu yang berarti angin dan Angga yang merupakan kependekan dari nama buah Anggur dan Mangga yang juga merupakan buah unggulan dari Probolinggo. Selain itu batik Kota Probolinggo juga memiliki motif laut dan gunung Bromo karena letak kota Probolinggo yang berada di dekat pesisir dan Gunung Bromo.

 

Seragam

Agus berkisah, sejak tahun 2010 para perajin batik dipercaya pemerintah kota untuk membuat seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bahkan, selama dua tahun ini Agus melayani pesanan batik untuk pakaian sekolah di Kalimantan Selatan dan Jakarta.

“Pasarnya sudah jelas. Dalam kota seperti untuk seragam PNS, SKPD dan seragam sekolah. Apalagi kita juga ikut Dekranasda yang membuat kita sering mendapat pesanan dari luar daerah ketika ikut pameran-pameran,” katanya.

Selain untuk pesanan seragam, banyak juga yang tertarik mengoleksi karena motifnya yang khas. Batik Bayuangga milik Agus terkenal dengan merek dagang Arumanis Batik. Dengan omzet rata-rata Rp 10 juta per bulan, Agus memang mulai mengecap hasil dari kreasinya. Harga batik tulis minimal Rp 175.000,- per potong dengan ukuran dua meter.

Ia mempekerjakan 13 karyawan yang mengerjakan pembatikan di rumah masing-masing. Di tempat industri Agus, hanya tinggal proses pewarnaan dan sentuhan akhir. “Untuk bahan malamnya kita sudah coba membuatnya sendiri. Kain dan pewarnanya dibeli dari Solo," ujar pengusaha muda yang memulai usahanya sekitar 5 tahun silam.

Agus mengaku mulai gundah dengan serbuan batik impor terutama dari Cina, meskipun masih yakin pasar batik tulis tidak sampai terpengaruh. “Kalau batik impor dari Cina itu khan rata-rata batik print. Beda dengan batik tulis sehingga motif dan coraknya punya ciri tersendiri. Jadi kita masih lebih unggul. Tetapi saya berharap kerajinan batik tulis juga dilindungi pemerintah,” harapnya.

Keresahan ini memang terkait dengan kapasitas kreatif serta produksi batik tulisnya. Berbeda dengan batik print yang bisa dibuat dalam skala besar. Sedangkan untuk batik tulis satu motif saja produksinya bisa memakan waktu 2-3 hari. “Apalagi motifnya kan selalu berbeda untuk satu kali produksi,”ujarnya.

Untuk bertahan, tahun 2012 dia bersama teman-temannya mendirikan paguyuban pembatik yaitu Kelompok IKM Batik Probolinggo Kota (KIPRO). Dengan adanya paguyuban tersebut perajin yang awalnya hanya berjumlah 11 orang, kini telah meningkat menjadi 21 pembatik.

Kini untuk meluaskan pangsa pasarnya, Agus memanfaatkan internet agar pelanggan dari luar pulau dapat ia layani. (pca)

 

Web Statistic