Jalur UM PTKIN, UINSA Gunakan Sistem Computer Based Test

09 February 2017 | Berita & Pengumuman

Jatim NewsroomUniversitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tahun ini menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) untuk jalur Ujian Masuk (UM) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Penggunaan sistem seleksi CBT dinilai lebih murah, aman dan efisien.

Rektor UINSA sekaligus Ketua Umum Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) dan Ujian Masuk (UM) PTKIN, Prof Abd A’la mengatakan, UINSA merupakan salah satu dari sejumlah PTKIN di Indonesia yang diberi kepercayaan untuk menggelar seleksi dengan sistem CBT. Kuota pendaftar CBT nasional yang disediakan panitia maksimal sebanyak 1.500 kursi.

“Kuota CBT UINSA masih belum diketahui jumlahnya karena hingga saat ini panitia sedang melakukan proses verifikasi dan survei lapangan. Ada sekitar 10 sampai 15 PTKIN calon penyelenggara UM PTKIN CBT,” tuturnya, Kamis (9/2) di kampus setempat.

Wakil Rektor I UINSA, Syamsul Huda menuturkan, indikator PTKIN yang layak menyelenggarakan UM PTKIN CBT, antara lain memiliki komputer yang cukup dalam satu ruangan, infrastruktur IT dan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang IT. “Ini untuk memudahkan pengawasan dan evaluasi CBT,” terang Syamsul yang juga Koordinator Sekretariat SPAN-UM PTKIN.

Ia menjelaskan waktu pelaksanaan ujian berbasis Paper Based Test (PBT) dan CBT dilakukan bersamaan selama satu hari. “Kalau tahun lalu UM PTKIN semuanya PBT dengan waktu dua hari. Tahun ini satu hari baik yang PBT maupun CBT. Tiap mata uji diberi waktu pengerjaan selama 60 menit,” ungkapnya.

Secara umum, sistem seleksi CBT di UINSA sudah sangat siap. Mengingat, telah tersedianya sarana Laboratorium Terintegrasi yang memadai, juga pengalaman menggelar tes berbasis CBT pada pada seleksi mahasiswa mandiri dan PBSB (Program Beasiswa Santri Beprestasi) tahun 2016. “UINSA menunggu hasil seleksi panitia pusat terkait CBT untuk jalur SBMPTN. Sedangkan untuk UM PTKIN, UINSA dipakai diantara 10 PTKIN. Secara sarana, prasarana, juga pengalaman, UINSA 99 persen siap,” tegasnya.

Selain itu, ia menuturkan pada jalur SPAN PTKIN ada menu tambahan bagi siswa peserta kelas akselerasi atau yang menggunakan sistem satuan kredit semester (SKS). Menurutnya tahun lalu belum mengakomodir siswa-siswa tersebut.

Selain kesiapan untuk seleksi berbasis CBT, ia menambahkan tahun ini pembayaran biaya seleksi UM PTKIN dapat dibayarkan di semua bank yang terhubung dengan BNI dengan menggunakan Virtual Account. Tawaran kemudahan lainnya adalah, adanya rencana menggelar analisa potensi calon maba menggunakan Genetic Talent Report melalui Fingerprint Analysis, sebuah sistem analisa sidik jari untuk mengetahui potensi genetis (bawaan sejak lahir) seseorang.

“Dalam proses seleksi, kita seringkali mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan diantara nilai-nilai tes yang seimbang. Dengan adanya Fingerprint Analysis ini tentunya akan semakin memudahkan. Seseorang yang memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam suatu pilihan jurusan tentu akan lebih dipertimbangkan,” tandasnya. (luk)

Web Statistic