Gubernur : Sengketa Tanah Harus Diselesaikan Secara Musyawarah

30 October 2018 | Berita & Pengumuman
Gubernur : Sengketa Tanah Harus Diselesaikan Secara Musyawarah

Jatim Newsroom  - Gubernur Jawa Timur, H Soekarwo berharap kasus atau sengketa pertanahan yang terjadi bisa diselesaikan secara musyawarah. Bahkan dicarikan solusi agar melahirkan keputusan saling menguntungkan, sehingga tidak ada pihak yang diuntungkan atau dirugikan.

“Dalam menyelesaikan sengketa tanah, jangan hanya menggunakan hukum secara mutlak, tetapi juga harus memperhitungkan kelangsungan kehidupan masyarakatnya,” kata Soekarwo saat membuka Rapat Koordinasi Pendataan, Inventarisasi dan Solusi Permasalahan Pertanahan di Jawa Timur di Surabaya, Senin (29/10) malam.

Saat ini, terdapat 102  kasus sengketa tanah yang terjadi di 18 Kabupaten/kota di Jawa Timur sedang dilaporkan kepada Komnas HAM RI dan memerlukan penyelesaian. Prinsip dasar dari sengketa tersebut kesemuanya bermuara pada siapa yang menjadi pemilik tanah tersebut. Melihat kasus tersebut, Pakde Karwo meminta agar historis kepemilikan tanahnya juga dilihat. Seluruh sejarah kepemilikan tanah di Indonesia tercatat di desa yang biasa disebut Kretek/sejarah tanah dan catatan tersebut  tidak dipunyai  BPN (Badan Pertanahan Nasional).

Pakde Karwo mencontohkan, bahwa banyak sekali sengketa tanah yang saat ini timbul karena tanah tersebut  merupakan tanah bagian sejak jaman pendudukan Belanda. Pada saat itu masyarakat dibagikan tanah untuk dikelola, kemudian mereka membayar pajak kepada Belanda. Setelah Belanda pergi pada 1946, tanah-tanah tersebut dicatatkan ke desa hingga lahirlah Kretek dan keluarlah Letter C. Selanjutnya,pengelola tanah membayar pajak kepada pemerintah yang kala itu disebut Iuran Pembangunan Daerah (IPEDA) dan keluarlah Pethok D. Pengelolaan tanah tersebut secara turun-temurun dikelola hingga anak-cucu. Dan mereka tidak mempunyai bukti kepemilikan, hanya berupa bukti pembayaran pajak atau Phetok D.

Melihat sejarah itulah, Pakde Karwo meminta agar sengketa tanah yang sering terjadi di masyarakat hendaknya diselesaikan secara musyawarah dengan melihat historis kepemilikannya. "Janganlah sampai ada seseorang yang memiliki bukti baru kepemilikan bisa diloloskan oleh BPN dalam hal ini sebagai regulator untuk mendapatkan sertifikat tanah. Orang miskin tidak mempunyai bukti kepemilikan tanah. Di sinilah pemerintah harus memperhitungkan kelangsungan kehidupan warganya. Kalau mereka terusir bagaimana lagi kehidupannya,” tambah Pakde Karwomelalui siaran pers HUmas Setdaprov Jatim.

Pakde Karwo juga berharap agar lahan pertanian yang setiap tahun beralih fungsi perlu diterbitkan Perda di setiap Kabupaten/Kota di Jatim. Halitu untuk melindungi tanah pertanian yang berkelanjutan. Tujuannya agar tidak beralih fungsi menjadi lahan perumahan ataupun industri.Akhir-akhir ini, banyak bermunculan kasus pertanahan yang terjadi di media massa. Secara makro, penyebab munculnya kasus pertanahan tersebut antara lain soal harga tanah yang meningkat dengan cepat, kondisi masyarakat yang semakin sadar dan peduli akan haknya, serta iklim keterbukaan yang digariskan pemerintah.

Terkait harga tanah yang meningkat cepat, Pakde Karwo meminta agar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, agar diikutsertakan dalam proses penentuan harga tanah. Harapannya agar para mafia tanah tidak seenaknya menentukan harga tanah, seiring dengan tumbuhnya bangunan real estate.

Ketua Komnas HAM RI,Ahmad Taufan Damanik mengatakan, persoalan sengketa tanah akan selalu dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Lebih dari itu, hukum adat akan diikutsertakan dalam perundingan.“Walaupun perbedaan yang ditimbulkan dalam sengketa tanah sangat tajam tetapi kesemuanya diharapkan dapat diselesaikan secara arif bijaksana dengan menyertakan buadaya dan kearifan lokal,” jelasnya.

Taufan berharap, rakor yang diselenggarakan dapat membedah kasus sengketa tanah yang ada  di kabupaten/kota. Selanjutnya dapat memberikan informasi dan kemudian dicarikan solusi."Masyarakat juga diajak bicara terutama para petani yang tanahnya bersengketa. Masyarakat marjinal diberikan ruang yang lebih luas untuk mendapatkan haknya,” tuturnya.(put)

Web Statistic