Gubernur : Kedepan Jawa Timur Harus Lebih Berdaya Saing

21 December 2018 | Berita & Pengumuman
Gubernur : Kedepan Jawa Timur Harus Lebih Berdaya Saing

Jatim Newsroom– Provinsi Jawa Timur kedepan tidak bisa mempunyai pilihan lain, harus menatap masa depannya yang mempunyai daya saing atau berdaya saing tinggi. Persaingan daya saing Jawa Timur sekarang bukan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tetapi provinsi-provinsi yang ada di Vietnam, China dan provinsi lain negara-negara di dunia.

“Pasar Jawa Timur sudah cukup terbuka oleh sebab itu cara pemikiran kita harus bisa ikut berubah dengan mengedepankan standar dan kualitas produk yang baik,” ujar Gubernur Jawa Timur, H Soekarwo yang biasa dipanggil Pakde Karwo saat Memberikan Paparan Pada HUT ke 50 Bhirawa di Surabaya, Kamis (20/12) sore.  

Menurut Pakde Karwo, di sektor ekonomi pertumbuhan Jawa Timur dalam posisi tidak bisa melompat dan tidak bisa juga jatuh, karena pada 2008 Pemprov Jawa Timur telah mengambil keputusan yaitu industri agro dan perdagangan merupakan hasil dari industri agro. “Ini dilakukan karena bahan baku industri ada disekitar kita tidak impor,” kata Pak De Karwo.

Tetapi, dalam perjalanan dampaknya ekspor neraca perdagangan selalu mengalami defisit. Inilah saat ini menjadi permasalahan yang cukup serius, maka untuk memecahnya memerlukan kerjasama dengan perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Hasil kerjasama tersebut  Pemprov Jawa Timur telah mengambil kebijakan yaitu RPJMD,  bahwa agro industri dan agro bisnis harus sejalan imbasnya perdagangan luar negeri Jawa Timur menjadi terkemuka di tingkat Asia.

Selanjutnya, kalau Jawa Timur pertumbuhannya ingin melompat menjadi 6 persen ke atas, maka kedepan industrinya harus plus industri pengolahan. Industri pengolahan pengganti sub bahan baku inpor untuk memberikan nilai tambah. Kalau daerah ingin makmur pertumbuhan industri pengolahannya harus tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonominya.

Dalam paparan lain, Pakde mengemukakan bahwa Jawa Timur yang letaknya cukup strategis di pulau Jawa paling timur dengan luas 47.000 meter persegi atau 36 persen dari luasnya pulau Jawa. Jumlah kabupaten/kota 38, 666 kecamatan dan 8.501 desa/kelurahan serta berpenduduk 39,5 juta jiwa. Daerahnya banyak gunung berapi maka sering ada gempa, maka masyarakat Jawa Timur harus bisa hidup berdampingan dengan gempa dan tidak boleh terlalu takut dengan gempa bumi serta disarankan kalau membuat bangunan rumah harus bisa tahan terhadap gocangan gempa.

Sementara Jawa Timur dalam peta dan angka dengan laju pertumbuhan penduduk terendah di dunia, berdasarkan sensus penduduk 2016 oleh BPS, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) 0,56 persen atau 220.000 kelahiran per tahunnya. Sedangkan pasangan usia suburnya mencapai 1,910 persen atau 1,90 anak cukup. Maka para pengambil kebijakan pendudukan harus bisa merancang tata ruang karena setiap tahun muridnya SD dan SMP turun. Pada Tahun 1998-2000 jumlah kelahiran di Jawa Timur masih 340.000 dengan LPP sebanyak 1,1 persen.

Jawa Timur dalam peta dan angka itu adalah bagamana merancang mendirikan sekolah, meningkatkan SDM itu bagaimana dan seperti apa ?, karena pada 2019 pemerintah pusat besar-besaran membangun SDM. Contohnya untuk program pendidikan vokasi telah disiapkan dana Rp 15 triliun tetapi modelnya masih belum jadi dan masih dirancang dengan serius. “Pendidikan model vokasi ini merupakan tantangan masa dengan Indonesia,” tuturnya.

Pada acara ini juga diserahkan “Bhirawa Award” untuk Bhirawa Award Adinayaka Wilwatikta diserahkan kepada Gubernur Jawa Soekarwo. Untuk Bhirawa Award lainnya diserahkan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Jawa Timur, Bank Jatim dan BUMD Jawa Timur. Kemudian dilanjutkan dengan Sarasehan menghadirkan pembicara Bupati Magetan Suprawoto, Rektor Unair, dengan moderator Suparto Wijoyo dari Unair. (ryo/p)

Web Statistic