GUBERNUR BERHARAP DOKTER AHLI BEDAH BISA DITEMPATKAN DI DAERAH TERPENCIL

24 August 2015 | Berita & Pengumuman

Tanggal: 20-08-2015

 

Gubernur Jawa Timur meminta kepada menteri kesehatan dan dokter ahli bedah se Indonesia agar segera memenuhi kebutuhan dokter spesialis di daerah terpencil di Indonesia khususnya Jatim. Pasalnya saat ini dokter spesialis mengalami kekurangan dan saat ini dokter spesialis hanya terpusat di kota saja.

Gubernur Jatim, H Soekarwo saat Pembukaan Acara Muktamar Ahli Bedah Indonesia XX di Surabaya, Kamis (20/8) mengatakan libelarisasi sudah masuk dalam konsep kedokteran. Permasalahan yang terjadi adalah persebaran dokter spesialis bedah di Jawa Timur tidak merata dan 73% dokter bedah hanya terpusat di 6 daerah yaitu Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Jombang  dan Kediri. “Ini bukan hanya persoalan Jawa Timur, tapi persoalan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, regulasi yang tegas sangat kami harapkan agar layanan kesehatan dapat dinikmati secara merata,”ujarny

Ia menjelaskan, rasio dokter spesialis bedah di Jatim seharusnya satu dokter dibanding 100.000 pasien, dan jika dihitung Jatim memerlukan 2.317 dokter spesialis yang tersebar di berbagai wilayah. ternyata dokter bedah yang ada di Jawa Timur sudah sangat banyak yaitu sekitar 4.763 dokter. Namun sayangnya mereka hanya terpusat di beberapa daerah yang mudah dijangkau. Sedangkan daerah-daerah yang kecil hanya sedikit bahkan tidak ada dokter bedah di daerahnya.

Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Jatim menetapkan peraturan daerah (perda) pada 2014 yaitu Peraturan Daerah No 7/2014 tentang Tenaga Kesehatan. Perda tersebut telah disetujui oleh tujuh dekan fakultas kedokteran, dan kepala rumah sakit  di Jatim untuk bekerjasama menggalangkan pemerataan dokter di seluruh wilayah dan mengatur dokter-dokter untuk mengabdi di tempat yang membutuhkan.

“Sekali lagi saya berharap agar dokter spesialis bedah untuk yang telah bekerja, maupun yang baru mendapatkan sertifikat, mau ditempatkan di daerah dan tidak hanya memilih kota besar,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Prof Nila Farid Moelek menyatakan terima kasih atas masukan dari Pemerintah Provinsi Jatim terhadap dokter spesialis. Dimana untuk pemenuhan dokter spesialis di daerah terpencil ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan lima spesialis antara lain ahli bedah, spesialis anak, kebidanan, ahli gizi, dan penyakit dalam menghasilkan kesepakatan bahwa lima spesialis tersebut telah sepakat bersedia ditempatkan di daaerah terpencil yang ada di Indonesia.

Ia mencontohkan, untuk penempatan spesialis ini pihaknya meminta kepada dokter yang akan lulus menjadi  di universitas dokter di daerah Sumatra maka dokter tersebut harus melakukan magang kerja atau menjadi dokter di daerah terpencil selama 1- 2 tahun. “Dengan adanya penempatan dokter tersebut diharapkan kekurangan dokter spesialis di daerah terpencil menjadi berkurang,” ujarnya. (pca/nov)

Web Statistic