Era MEA, Pemprov Terus Perkuat Pendidikan Vokasional

09 January 2017 | Berita & Pengumuman

Jatim Newsroom- Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menuntut kompetisi dan kompetensi, Pemprov Jatim terus memperkuat pendidikan vokasional. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing industry, salah satu dengan cara menambah persentase pendidikan berbasis vokasional.

Saat ini, rasio Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jatim yakni 35 : 65. Idealnya, yakni 30% untuk SMA dan 70% untuk SMK. Wakil Gubernur Jatim, H Saifullah Yusuf usai Pembukaan Semen Indonesia Award on Innovation (SMI AI) 2015-2016 mendampingi Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto di Wisma PT Semen Indonesia Gresik, Senin (9/1) mengatakan, di tingkat SMK harus diberikan pendidikan vokasional yang tuntas, sehingga lulusan SMK siap menjadi tenaga kerja yang ahli siap pakai dan tidak perlu masuk BLK lagi.

Berdasarkan data, dari 1.900 lebih SMK di Jatim, sebanyak 200 diantaranya negeri yang sudah berstandar internasional. Sementara sisanya swasta, baru 45% berstandar internasional. Untuk lulusan pondok pesantren digabungkan dengan SMK Mini. Ini dilakukan guna memenuhi standar tenaga kerja yang dibutuhkan pasar industri

Pemprov Jatim mendirikan 270 SMK Mini atau Balai Latihan Kerja (BLK) Plus yang memberikan pendidikan selama enam bulan dengan ilmu keahlian sesuai kebutuhan pasar. Setelah enam bulan dididik, mereka keluar dengan membawa sertifikat dengan standard internasional. Ijazah atau sertifikat ini bisa digunakan untuk melamar sesuai dengan lowongan yang dibutuhkan. Dengan begitu setiap tahun, Jatim mendidik 50 lebih tenaga-tenaga terampil. Dengan inovasi di bidang permesinan, ternyata efeknya jauh lebih besar. Belum lagi inovasi di bidang packaging. Itu sangat mempengaruhi daya saing.

Sementara itu, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto mengatakan, Kementerian Perindustrian telah memfokuskan pengembangan pendidikan vokasi industri yang berbasis kompetensi serta memiliki keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara SMK dengan dunia industri seperti dengan Semen Indonesia yang mempunyai cabang di berbagai tempat.

Ditambahkannya, pendidikan vokasi diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan di dunia industri saat ini, sehingga tidak ada lagi kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja industri dengan tenaga kerja yang tersedia.

​Khusus untuk pelatih-pelatih yang sudah pensiun di industri, tetapi masih mempunyai semangat, maka pelatih tersebut akan dialihkan menjadi guru di SMK. “Ada win-win solution antara masyarakat dengan industri. Sehingga masyarakat bisa siap menggunakan kemampuannya di dunia industri,” katanya melalui siaran pers HUmas Setdaprov.

​Ia berharap, Semen Indonesia Grup dapat mendukung dan membuat program pendidikan vokasi yang bekerjasama dengan sekolah kejuruan di sekitar pabrik maupun daerah lainnya, sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi oleh tenaga kerja lokal.  ​

Berkaitan dengan daya saing industri, ia menjelaskan, saat ini pelaku di seluruh dunia sedang bertransformasi untuk menyambut Revolusi Industri yang keempat atau dikenal dengan istilah Industri 4.0 yang menekankan pada Platform Internet of Things untuk mencari langkah-langkah efisiensi dan optimalisasi proses produksi. Tujuannya agar mencapai output yang maksimal.

Kementerian Perindustrian, mengkaji beberapa industri untuk dikembangkan sebagai sektor pionir bagi perkembangan industri 4.0 di Indonesia. Untuk itu, diharapkan industri semen termasuk perusahaan semen pada Semen Indonesia Group melakukan transformasi sesuai dengan perkembangan teknologi industri 4.0 yang dapat diterapkan secara bertahap.

Terkait acara SMI AI 2015-2016, Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Jatim, Benny Sampirwanto menjelaskan SMI AI 2015-2016 merupakan rangkaian dari Peringatan HUT ke-4 PT Semen Indonesia (Persero). Kegiatan itu dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat dan budaya berinovasi, serta mendorong sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan inovatif. (put)

Web Statistic