Disnak Jatim Bentuk Posko Penanganan Virus Antraks di Tulungagung

11 June 2021 | Berita & Pengumuman
Disnak Jatim Bentuk Posko Penanganan Virus Antraks di Tulungagung

Jatim Newsroom-  Dinas Peternakan Jawa Timur mengambil tindakan terkait adanya ternak yang terdeteksi positif virus Antraks di Kabupaten Tulungagung dan Trerenggalek. Selain mendirikan posko terpadu dan penambahan puskeswan, juga mengoptimalkan tim kesehatan pada pasar-pasar hewan ternak.

"Upaya ini kita lakukan pada kabupaten yakni Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Blitar. Tujuannya untuk mencegah penyebaran virus antraks ini, yang bisa saja menyebar melalui jual beli hewan ternak," ujar Plt Kepala Dinas Peternakan Jatim Mohammad Gunawan Saleh, Rabu (9/6).

Menurutnya posko terpadu ini tidak hanya diisi oleh tim kesehatan hewan dari Disnak, namun juga melibatkan unsur perangkat desa, perwakilan peternak dari gapoktan, dinas kesehatan serta unsur kepolisian dan TNI. Gugus tugas yang berjaga posko terpadu ini bertanggung jawab dalam melayani setiap aduan dan keluhan masyarakat yang berkaitan dengan peternakan serta risiko penularan wabah antraks yang kini diduga telah menular pada manusia tersebut.

"Jika ada laporan ternak sapi yang mati, tim di posko wajib turun langsung melakukan penanganan. Mereka juga yang aktif melakukan desinfeksi di kandang-kandang ternak sapi, sesuai permintaan peternak maupun berdasar evaluasi atas kandang-kandang yang diduga terkontaminasi antraks," jelasnya.

Gunawan mengatakan kasus antraks di Tulungagung beberapa hari terakhir ini ditemukan di dua dusun yakni di Dusun Toro dan Dusun Bulusari, Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo. Ia menambahkan awalnya kasus ini muncul 19 Februari lalu, namun hingga saat ini 27 ekor ternak mati akibat antraks. "Terdiri dari 20 ekor sapi dan 7 ekor kambing berasal dari 11 peternak. Para peternak ini menyebutkan, tanda-tanda yang ditemukan pada hewan ternaknya adalah nafsu makan rendah, nafsu minum tinggi dan mati mendadak," ungkapnya

Lebih lanjut Gunawan mengatakan dari 27 hewan ternak tersebut, 1 positif antraks sedangkan 26 lainnya tertular. Dari jumlah ternak yang mati itu 7 ekor sapi dan 6 kambing dikubur. Dan yang dipotong 1 ekor kambing, yang dijual 13 ekor. "Inilah yang ditengarai menular pada manusia. Untuk penularan pada manusia masih dilakukan penelusuran," katanya.

Gunawan menambahkan dari hasil pemetaan, zona kemungkinan yang bisa tertular di Sidomulyo ada 2075 ekor. Sedangkan zona terancam di Desa Samar 3191 ekor, Desa Kradinan 2415 ekor, Desa Gondang Gunung 2366 ekor dan Desa Pagerwojo1828 ekor. "Kemudian di Trenggalek ada di Kecamatan yang berbatasan dengan Kecamatan Pagerwojo yakni Kecamatan Bendungan. Yakni di Desa Depok, Desa Suren Lor dan Desa Botoputih. Hanya saja untuk jumlahnya belum terdeteksi. Harus diakui kami kekurangan obat dan vaksin untuk antraks," ujarnya.

Diketahui sebelumnya, puluhan hewan ternak di Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo, Kecamatan Tulungagung mati karena virus antraks. Kemudian 6 warga Desa ini juga dinyatakan suspek antraks oleh Dinas Kesehatan setempat. Mereka menunjukkan gejala terpapar bakteri tersebut berupa penyakit kulit. Para pasien tersebut saat ini sudah menjalani pengobatan dan beberapa di antaranya sudah sembuh. (Mad)

Web Statistic